"....mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? …
Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak
boleh memahaminya? … kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar
membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya … Tidak jadi orang
soleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukanlah
begitu Stella?"
Setidaknya, itulah seklumit kegelisahan
(pergulatan) intelektual-spiritual seorang remaja putri ningrat dari
pesisir Jawa Tengah itu. Kepada Stella, kawan karibnya dari negeri
Belanda, ia mengadu. Konon, kegelisahanya itu muncul setelah putri
ningrat itu pernah dimarahi dan dikeluarkan oleh guru ngajinya hanya
karena ia mengajukan pertanyaan tentang makna tulisan-tulisan Arab yang
dibacanya.
Kegelisahan putri ningrat itu pun berlanjut.
Namun, kali ini ia mengadu kepada kawannya yang lain. Kepada Abendanon,
Direktur Departemen Pendidikan Agama, dan Kerajaan Hindia Belanda Saat
itu, dia menulis bahwa sesungguhnya dia ingin sekali mengetahui
kandungan Al-Quran.
“Katakanlah kepadaku apa artinya,
nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu
terlalu suci sehingga kami tidak tidak boleh mengerti apa artinya,”
tulisnya.
Mengetahui kegelisahan kawannya itu, Abendanon
merasa prihatin. Sehingga kemudian Abandenon mangajaknya dengan dialog
yang hangat dan empatis. Sampai akhirya, kepada Abendanon, putri ningrat
itu pernah menyatakan bahwa agamanya kini bukan adalah agama Kasih
Sayang, yang universal, menjiwai semua agama, dan bahkan melingkupi
hidup seorang kafir.
“Maksud Tuhan kepada kita baik. Hidup
ini diberikan kepada kita sebagai rahmat dan tidak sebagai beban; kita
manusia sendiri umumnya membuatnya menjadi kesengsaraan dan penderitaan.
Betapa baiknya maksud Pencipta kepada kita, paling baik kita rasakan
dan kita ketahui apabila kita berada di alam bebas-Nya,” ungkapnya
kepada Abendanon.
Semenjak itu, putri ningrat dari jawa
itu meyakini dan mengemban agama kemanusian (cinta kasih). Namun,
pemahamannya yang seperti itu tak berlangsung lama, setelah ia bertemu
dengan seorang kiyai yang bernama Kiyai Sholeh Darat. Kiyai itu sanggup
memuaskan setiap kegelisahan dan pertanyaan kritisnya.
Melalu
perbincangan intensif dengan kiyai Sholeh Darat, ia akhirnya
menyimpulkan bahwa jalan kepada Allah dan jalan ke arah kebebasan hanya
satu. Siapa yang sesunggungahnya mengabdi kepada Allah tidak terikat
kepada seseorang manusia pun, ia sebenarnya benar-benar bebas.
Dengan
polosnya, ketika ia berada puncak kesadaran spiritualnya, putri ningrat
itu mengatakan, “Kami tidak dapat mengatakan betapa tenang, betapa
tentram hati kami sekarang. Betapa bahagia rasanya. Tiada kekhawatiran,
tiada ketakutan lagi … Ada yang melindungi kami, yang selalu ada dekat
kami … kami yakin itu.” Kemudian putri ningrat itu melanjutkan, “...
yang kami cari itu dekat sekali: ia ada di dalam jiwa kita sendiri.”
Jadi,
ngomong-ngomong soal putri ningrat itu, pelajaran apa yang bisa kita
ambil? Yang jelas, satu hal yang sering dilupakan orang adalah pelajaran
dari sisi spiritual pergulatan intelektualnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar