“We cannot do everything at once, but we can do something at once”

Sabtu, 21 April 2012

Putri Ningrat Itu

"....mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? … Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? … kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya … Tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukanlah begitu Stella?"

Setidaknya, itulah seklumit kegelisahan (pergulatan) intelektual-spiritual seorang remaja putri ningrat dari pesisir Jawa Tengah itu. Kepada Stella, kawan karibnya dari negeri Belanda, ia mengadu. Konon, kegelisahanya itu muncul setelah putri ningrat itu pernah dimarahi dan dikeluarkan oleh guru ngajinya hanya karena ia mengajukan pertanyaan tentang makna tulisan-tulisan Arab yang dibacanya.

Kegelisahan putri ningrat itu pun berlanjut. Namun, kali ini ia mengadu kepada kawannya yang lain. Kepada Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan Agama, dan Kerajaan Hindia Belanda Saat itu, dia menulis bahwa sesungguhnya dia ingin sekali mengetahui kandungan Al-Quran.

“Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak tidak boleh mengerti apa artinya,” tulisnya.

Mengetahui kegelisahan kawannya itu, Abendanon merasa prihatin. Sehingga kemudian Abandenon mangajaknya dengan dialog yang hangat dan empatis. Sampai akhirya, kepada Abendanon, putri ningrat itu pernah menyatakan bahwa agamanya kini bukan adalah agama Kasih Sayang, yang universal, menjiwai semua agama, dan bahkan melingkupi hidup seorang kafir.

“Maksud Tuhan kepada kita baik. Hidup ini diberikan kepada kita sebagai rahmat dan tidak sebagai beban; kita manusia sendiri umumnya membuatnya menjadi kesengsaraan dan penderitaan. Betapa baiknya maksud Pencipta kepada kita, paling baik kita rasakan dan kita ketahui apabila kita berada di alam bebas-Nya,” ungkapnya kepada Abendanon.

Semenjak itu, putri ningrat dari jawa itu meyakini dan mengemban agama kemanusian (cinta kasih). Namun, pemahamannya yang seperti itu tak berlangsung lama, setelah ia bertemu dengan seorang kiyai yang bernama Kiyai Sholeh Darat. Kiyai itu sanggup memuaskan setiap kegelisahan dan pertanyaan kritisnya.

Melalu perbincangan intensif dengan kiyai Sholeh Darat, ia akhirnya menyimpulkan bahwa jalan kepada Allah dan jalan ke arah kebebasan hanya satu. Siapa yang sesunggungahnya mengabdi kepada Allah tidak terikat kepada seseorang manusia pun, ia sebenarnya benar-benar bebas.

Dengan polosnya, ketika ia berada puncak kesadaran spiritualnya, putri ningrat itu mengatakan, “Kami tidak dapat mengatakan betapa tenang, betapa tentram hati kami sekarang. Betapa bahagia rasanya. Tiada kekhawatiran, tiada ketakutan lagi … Ada yang melindungi kami, yang selalu ada dekat kami … kami yakin itu.” Kemudian putri ningrat itu melanjutkan, “... yang kami cari itu dekat sekali: ia ada di dalam jiwa kita sendiri.”

Jadi, ngomong-ngomong soal putri ningrat itu, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Yang jelas, satu hal yang sering dilupakan orang adalah pelajaran dari sisi spiritual pergulatan intelektualnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar